NATUNA, 17 Agustus 2026 — Pagi 17 Agustus di Pengadilan Negeri Natuna dimulai lebih awal dari hari kerja biasa. Seluruh pegawai berkumpul di lapangan kantor untuk mengikuti upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Upacara dipimpin oleh Asturi Periyadi, A.Md.A.B. Sementara itu, Hakim Pengadilan Negeri Natuna Salihin Ardiansyah, S.H., M.H. bertindak sebagai Pembina Upacara.
Tahun ini, peringatan kemerdekaan mengangkat tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.”

Pagi yang Berbeda dari Hari Kerja Biasa
Biasanya, pagi di PN Natuna langsung diisi dengan urusan pelayanan, berkas, persidangan, dan pekerjaan administrasi. Pada 17 Agustus, suasananya berbeda.
Pegawai berkumpul di lapangan, mengambil posisi masing-masing, lalu mengikuti rangkaian upacara sampai selesai. Ketika Sang Merah Putih dikibarkan, suasana lapangan menjadi lebih tenang. Seluruh peserta berdiri memberikan penghormatan.
Tidak banyak yang perlu dibuat berlebihan dari momen itu. Upacara memang kegiatan yang rutin dilakukan setiap tahun. Namun, berdiri bersama dalam satu barisan tetap memberi suasana tersendiri, apalagi bagi pegawai yang pada hari biasa bekerja di bagian dan ruangan yang berbeda.
Tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” juga terasa cukup dekat dengan pekerjaan di pengadilan.

Khususnya kata adil. Itu bukan hanya istilah yang muncul di ruang sidang. Masyarakat juga bisa merasakan ada atau tidaknya keadilan dari hal sederhana: bagaimana mereka diterima di meja pelayanan, apakah informasi yang diberikan jelas, apakah prosedurnya mudah dipahami, dan apakah semua orang dilayani dengan cara yang sama.
Bagi aparatur pengadilan, pekerjaan sehari-hari seperti itulah yang paling mudah dikaitkan dengan semangat kemerdekaan.

Selesai Upacara, Suasana Langsung Berubah
Setelah upacara selesai, kegiatan belum berakhir.
Masih dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Republik Indonesia dan HUT ke-81 Mahkamah Agung Republik Indonesia, keluarga besar Pengadilan Negeri Natuna dan Pengadilan Agama Natuna melanjutkan kegiatan dengan lomba permainan rakyat.
Suasana yang sebelumnya formal langsung berubah.
Pegawai PN Natuna dan PA Natuna berkumpul di area lomba. Ada yang turun sebagai peserta, ada yang menyemangati dari pinggir, ada juga yang sibuk menertawakan kejadian-kejadian spontan selama lomba berlangsung.
Permainan yang dilombakan cukup beragam, mulai dari memasukkan paku dalam botol, estafet tepung, estafet air, kail keranjang, makan kerupuk, hingga naga buta.

Tepung Berhamburan, Air Tumpah, dan Sorakan dari Pinggir
Lomba memasukkan paku dalam botol kelihatannya sederhana. Begitu dimulai, peserta justru harus benar-benar berkonsentrasi agar paku masuk ke dalam botol. Sorakan dari rekan-rekan di sekitar tentu tidak membantu.
Estafet tepung juga punya cerita sendiri. Tepung yang seharusnya dipindahkan dari satu peserta ke peserta berikutnya tidak semuanya sampai ke tujuan. Sebagian justru menempel di pakaian dan wajah peserta. Dari situlah suasana mulai semakin ramai.
Hal yang kurang lebih sama terjadi di lomba estafet air. Peserta berusaha menjaga agar air yang dipindahkan tidak terlalu banyak tumpah sebelum sampai ke bagian akhir.
Pada permainan kail keranjang, peserta harus lebih sabar. Sementara lomba makan kerupuk tetap menjadi salah satu permainan yang paling mudah mengundang perhatian, terutama ketika peserta mulai kesulitan mengejar kerupuk yang terus bergerak.

Lomba naga buta juga tidak kalah ramai. Peserta harus bergerak bersama dengan pandangan terbatas. Salah arah sedikit, barisan bisa ikut berbelok dan memancing tawa peserta lain yang melihat dari pinggir.

Bukan Sekadar Mencari Pemenang
Lomba-lomba tersebut tentu menghasilkan pemenang. Tetapi suasana hari itu tidak hanya soal siapa yang paling cepat atau paling unggul.
Yang lebih terasa justru kesempatan berkumpulnya pegawai PN Natuna dan PA Natuna di luar urusan pekerjaan.
Pada hari biasa, masing-masing punya tanggung jawab sendiri. Ada yang bekerja di pelayanan, kepaniteraan, kesekretariatan, ruang sidang, maupun bagian lain. Dalam perlombaan, posisi itu untuk sementara tidak terlalu penting.
Semua bisa ikut tertawa ketika tepung berhamburan, air tumpah, atau peserta naga buta justru bergerak ke arah yang salah.
Pagi 17 Agustus di PN Natuna akhirnya berjalan dalam dua suasana. Dimulai dengan upacara yang tertib dan khidmat, lalu ditutup dengan perlombaan yang jauh lebih santai.
Sederhana, tapi justru itu yang membuat peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia dan HUT ke-81 Mahkamah Agung RI terasa lebih hidup di lingkungan Pengadilan Negeri Natuna.



